Pada masa sekarang ini kita berada di masa dijital, didorong oleh pandemi mau tidak mau berads di dunia yang didominasi komunikasi antar jaringan yang nirkabel. Tidak berbatas waktu ruang dan jarak. Dunia nonruang sebagai mistifikasi digital. Keadaan seperti sekarang ini sesungguhnya sudah dilukiskan dalam novel science fiction berjudul NEUROMANCER  karya William Gibson yang telah berkali kali cetak ulang. karya Willian Gibson itu berguna bagi Masyarakat dunia, tidak hanya bagi Canada, America dan Europa saja.


Demikian dituturkan DR. Marlinda Irwanti Direktur Komunitas Tiga Sekawan Footprint Research yang juga dikenal sebagai presenter TVRI tempo dulu dan Migrant Advisor pada International Council of Women yang berkedudukan di Perancis. Dan kata perempuan yang dikenal dengan mama Linda Poernomo kekuatan buku sebagai sebuah karya  memotivasi dirinya meluncurkan buku hasil karyanya hampir setiap ulang tahunnya 16 Oktober.


“Memanfaatkan momentum kelahiran dengan berbuat kebaikan sangat tepat jika dilakukan dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman pada masa sekarang dan masa depan. Ini bakti bagi Negeri juga  sebagai ucapan syukur Karena Allah  memberi saya kemampuan menuliskannya,”jelas Linda dengan yakin.


“Medium yang tepat itu ya melalui buku, bisa ebook juga bisa buku cetak. Beberapa generasi bisa menggunakannya. Coba kita Iihat, misalnya, kondisi yang kita alami sekarang keberadaan kita yang hampir didominasi dunia digital, itu dibahas dan ada di dalam buku berjudul Neuromancer karya William Gibson pada tahun 1984 tapi karena relevansi isi buku dengan perkembangan kita buku ini sudah 16 kali cetak ulang” tutur Linda Poernomo yang juga Direktur Komunitas Tiga Sekawan Footprint Research.


Linda nenguraikan bahwa Neuromancer sebagai novel science fiction tentu dilandasi dengan riset sebelum mengembangkannya dengan Ilusi logis yang memaksimalkan pendewaan pada kemampuan teknologi. Istilah istilah yang kita pakai sekarang “cyberspace” atau non ruang misalnya dikenalkan terlebih dulu dalam buku tersebut. Selayaknya buku seperti ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Hari ini ditengah perayaan ulang tahunnya ke 58 tahun! Dr. Marlinda Irwanti Poernomo, Direktur Pasca Sarjana UNiversitas Sahid  bersama Prof. Dr. Burbank Bungin meluncurkan buku serius berjudul,  “Qualitative Data Analysis, Manual Data Analysis Procedure,(QDA)”.


“Selain amat penting dalam penelitian kualitatif, isi buku juga mengandung berbagai perdebatan yang harus dipahami oleh peneliti kualitatif sebelum melakukan penelitian, “ jelas sosok yang lebih akrab dengan panggilan Linda Poernomo yang juga aktivis pemberdayaan perempuan.

“Pemahaman terhadap perdebatan ini membawa peneliti memahami terlebih dahulu paradigma/mazhab/aliran-aliran di dalam penelitian kualitatif,” tambah Linda Poernomo Dalam keterangannya di Jakarta hari ini, Minggu 16 Oktober 2022.

Di dalam buku ini  Linda dan Bungin mencoba menjelaskan  model-model analisis data kualitatif berdasarkan berbagai perdebatan paradigma/mazhab, yang akan memudahkan para “ peneliti nantinya akan menentukan sendiri posisinya di mana ketika melakukan penelitian kualitatif, termasuk di level mana desain penelitian kualitatif itu diterapkan.

“Saya mendedikasikan buku ini untuk analisis data kualitatif manual, sebagaimana warisan riset-riset kualitatif.” ujar Linda.


Sementara Prof.Dr. Burhan Bungin,   menyebutkan bahwa dengan buku ini ingin dengan mudah menunjukkan pentingnya peran peneliti dalam analisis data kualitatif yang tidak tergantikan oleh alat apa saja—kendati saat ini kita mengenal teknologi IT—karena manusia memiliki berbagai kemampuan yang tidak tergantikan oleh alat-alat tersebut.

Linda dan Bungin berharap buku ini dapat membantu pembaca, mahasiswa, dosen, periset, dan akademisi pada umumnya untuk memahami metodologi analisis data penelitian kualitatif, memecahkan berbagai masalah dalam pelaksanaan penelitian kualitatif.(Sophie)