Lewat buku barunya berjudul Unit Gawat Darurat di Tengah Pandemi, Dokter Emirianti, mencoba mengenalkan UGD kepada khalayak dengan mudah dan gamblang. Ia melukiskan UGD adalah layanan gawat darurat pada rumah sakit kelas menengah sedangkan Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah layanan gawat darurat yag tersedia di rumah sakit berskala besar.

Buku ini melukiskan apa saja yang bisa didapatkan oleh khalayak yang terpaksa harus menggunakan layanan ini. Keadaan seperti ini terlihat saat pandemi berlangsung. Karena skala UGD hanya rumah sakit menengah ketika banyak yang terpapar membutuhkannya otomatis UGD bisa tidak maksimal. Bebannya terlalu berat. Tetapi berkat pandemi banyak tenaga kesehatan menjadi semakin trampil dan bersahabat dengan khalayak yang terpapar.

Sisi kemanusiaan tenaga kesehatan langsung tersentuh dan terbawa sampai ke perasaan. Itu dialami sendiri oleh Dokter Kenansa. Dokter muda yang kerap ditempatkan di UGD pada beberapa rumah sakit dalam jaringan rumah sakit tentara. Ia selalu mengingat dan menitikan air mata harunya ketika harus berhadapan dengan terpapar.

Pada bagian lain dokter Emirianti mengisahkan keinginannya menulis buku semakin besar ketika memasuki pandemi. Ia ingat tesisnya dulu mengangkat tema Unit Gawat Darurat. Maka ia pun memotret keadaan di sekitarnya dalam skala domestik, nasional hingga ASEAN.

Ada gambaran keadaan UGD di Malaysia, Singapura hingga Thailand ketika berhadapan dengan pandemi. Ketika UGD diserbu terpapar. Ketika UGD menjadi garda paling depan menyelamatkan umat.

Buku ini bisa dimiliki dengan mengunduhnya di platform open library dan SMASHWORDS untuk versi e-book. Sedangkan versi lebih lengkap tersedia dalam buku cetak. Bisa didapat di tokopedia juga di toko.ly/kioskbuku.

Berikut adalah cuplikan pembahasan buku dokter Emirianti yang disiarkan Nusantara TV, televisi dijital pertama di Indonesia.