• Jum. Sep 24th, 2021

KOMNAS PA DKI 2021 SIAP LAKUKAN REVOLUSI GERAKAN PERLINDUNGAN ANAK



Ketua Komnas PA DKI Jakarta, H. Otong Suryana SH, mengakui bahwa  Catatan Akhir Tahun 2020  terhadap Perlindungan Anak  menunjukan adanya tingkat kekerasan terhadap anak semakin meningkat. Terlebih di Jakarta, mengingat jumlah penduduk di Jakarta secara keseluruhan ini sangat banyak. Pola kehidupan masyarakat juga dalam masa transisi, marjinal dan juga ditambah dengan pandemik.

“Kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang dewasa, termasuk orang tua, sudah menjadi ancaman yang harus kita waspadai. Bagaimana mewaspadainya paling efektif dimulai dari lingkungan terkecil. Keluarga satu sama lain, dan kampung.” kata H. Otong Suryana seusai jumpa pers bersama Komnas PA Pusat di Jakarta 14 Desember 2020.

Tapi kata H. Otong, kampung dan keluarga di Jakarta tidak seperti di desa dan kota-kota kecil di Indonesia lainnya. Pola kehidupan individu, masing-masing, menjadi-jadi di Jakarta ini. Tingkat stress dan ancaman atau rongrongan dalam mencari matapencaharian keluarga juga berbeda. Gotong royongnya berbeda. Nah ini, musti segera kita cari mekanisme yang tepat, realistis,” jelas H. Otong.

Ia mengakui Komnas PA DKI Jakarta paling bertanggungjawab untuk membangun mekanisme perlindungan anak dari kekerasan dengan memberdayakan elemen masyarakat yang memang sudah ada. RT, RW, Kelurahan, juga para pekerja sosial masyarakat harus terlibat dan dilibatkan bersama-sama dengan para pendidik dan penegak hukum.

Pada kesempatan lain Aris Merdeka Sirait, Ketua Komnas PA Pusat menyerukan perlunya revolusi gerakan perlindungan anak berbasis keluarga. dan kampung ini dapat diwujudkan oleh semua komponen bangsa di Indonesia . Jika ini dapat terwujud maka masa depan anak akan terjaga dan kekerasan anak  yang levelnya sudah abnormal tidak akan terjadi. Tanpa itu. kita khawatir kita akan mengalami keadaan di ambang ancaman Lost Generation.

“Darurat Kekerasan Abnormal Terhadap Anak Mengancam Indonesia. Untuk Memutus mata rantai kekekerasan abnormal dibutuhkan revolusi gerakan perlindungan anak berbasis keluarga dan kampung, “ tegas Aris Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak Pusat.(*)

#hajiotong
 

Haji Otong


Otong


Jika kita menuliskan kata Haji Otong pada google search alias mesin pencari sederet cerita tentang Haji Otong. Deret pertama dilukiskan Rust Gerota dalam kompasiana bahwa, Rumah Singgah Akur Kurnia adalah salah satu Rumah Singgah yang ada di daerah Pasar Induk Jakarta Timur yang di kelola oleh Haji Otong SH. Merupakan wadah untuk menaungi, serta membina kelompok anak jalanan wilayah Pasar Rebo, Taman Mini dan Cililitan. Total anak jalanan yang terdata di Rumah Singgah Akur Kurnia sekitar 150-an. Kerasnya kehidupan ini sehingga banyak orang yang menjadi gelandangan atau orang-orang yang tidak memiliki rumah (Tuna Wisma) di Jakarta. 


Berangkat dari berbagai fenomena getir di sekitar tempatnya bekerja itulah Hj. Otong seorang pria kelahiran Serang, 25 September 1955 berinisiatif mendirikan Rumah Singgah Akur Kurnia (RSAK).Rumah Singgah ini didirikan karena keprihatinanya yang mendalam atas berbagai peristiwa memilukan. Hobinya bersepakbola membuat Hj. Otong lebih mudah untuk melakukan interaksi dengan anak-anak pengemis dan gelandangan sekitar Pasar Induk Kramat Jati.  Dari kegiatan latihan sepakbola, Hj. Otong mulai menarik simpati anak-anak. Mereka diajaknya berbicara dari hati ke hati. Dari situ ia juga m emahami problematika dan emosi anak anak asuhnya sehingga Yayasan Akur Kurnia didirikan sebagai media untuk membina anak anak gepeng (gelandangan pengemis) di sekitar Pasar Induk Kramat Jati.Berdasarkan informasi yang kami terima dari Hj. Otong selaku Vendor, bahwa Rumah Singgah ini berdiri sekitar tahun 1980an. Kemudian pada tahun 1998 diurus badan hukumnya menjadi Organisasi Sosial (orsos).  


 "Awalnya saya mengumpulkan anak jalanan untuk main bola, sekedar menyalurkan hoby, karena saya pemain bola. Saya juga suka dengan anak-anak, dan dari awal memang saya cere dengan mereka. Saya juga ajak mereka dagang, biar gak keluyuran di jalanan. Mengurus anak marginal, ibarat mengurus anak singa, tapi karena sudah menjadi hoby, jadinya bergelut sampai sekarang" kata Hj. Otong. 


Dalam penjelasan lanjutan, Hj. Otong mengatakan bahwa Ide awal untuk membentuk Rumah Singgah ini adalah semata mata membantu para anak jalanan agar dapat hidup layak, selayak anak-anak pada umumnya.  Umur anak jalanan rata-rata umur anak sekolah SD-SMA, bahkan ada yang Paud. Miris rasanya dimana mereka harusnya ada di bangku sekolah namun harus keluyuran di jalanan hanya untuk bisa mendapatkan uang, demi sesuap nasi.  Yang lebih miris lagi adalah, mereka itu di paksa oleh orang tua mereka. 


"Lo sekolah dapat apa si? Mending lo cari duit sana!" Itu adalah kata2 yang sering diucapkan oleh orang tua mereka, kata pak haji,, 


"Awalnya cuma beberapa orang yang mau bergabung, lama kelamaan jadi banyak. Mengumpulkaan anak jalanan itu tidak semuda yang kita bayangkan. Mereka punya dunia sendiri, dan itu butuh kesabaran, lanjut Hj. Otong." 


Hidup menjadi anak jalanan memang bukan merupakan pilihan yang menyenangkan karena anak jalanan menghadapi situasi di mana hak-hak sebagai anak kurang terpenuhi, baik dari aspek pendidikan, kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan pelindungan. Di jalanan anak-anak berinteraksi dengan nilai dan norma yang jauh berbeda dengan apa yang ada dilingkungan keluarga dan sekolah. Keberadaan yang tidak menentu tersebut pada akhirnya sangat potensial untuk melakukan tindakan kriminal, menganggu lalu lintas, membuat bising penumpang, menganggu pemandangan dan keindahan taman. Berbicara mengenai anak jalanan sudah pasti yang kita bayangkan adalah mereka yang pengamen, pengemis, pemulung, yang sering kita temukan di bawa kolom jembatan, di lampu merah dan di tempat tempat umum lainnya. Itulah dunia mereka, hal yang sudah menjadi biasa bagi mereka.  Kita tidak bisa lansung mengajak mereka begitu saja untuk keluar dari dunia mereka, butuh kerja keras dan kesabaran. 


 "Yang lebih penting adalah adanya iming iming, kalau cuma ngomong doang ma meraka ga bakalan mau", kata pak Hj Otong disela sela diskusi. "Mengumpulkan anak jalanan itu tidak mudah, apalagi mengajak mereka untuk datang mengikuti kegiatan seperti begini, butuh lebih dari sekedar iming-iming. Rumah Singgah ini Roh saya, jadi kalau ada kegiatan seperti begini, saya sangat senang, dan saya sangat bersemangat. Apapun itu saya fasilitasi sehinga bisa berjalan lancar. Kegiatan ini memang telah berakhir, namun bilamana mau mengadakan kegiatan disini lagi, bapak ibu dosen silakan datang saja, saya pasti prioritaskan." Kata Hj. Otong 


 Lelaki tinggi gagah ini memiliki waut wajah serius dan ramah. Tidak muda lagi. Sebagian anak remaja memanggilnya "Kakek haji". Sebagian lagi memanggilnya "Pak Haji". Pak Haji merelakan lahan rumahnya yang strategis di Jalan Raya Bogor menjadi rumah singgah. Rumah di luar panti sosial, yang merupakan tempat rehabilitasi sosial dasar. Ikuti kisah lanjutannya dalam buku berjudul, perjalanan Haji Otong.